Home » » Perkembangan Anak Prasekolah

Perkembangan Anak Prasekolah

PERKEMBANGAN ANAK USIA PRASEKOLAH
BAB I PENDAHULUAN
Dunia anak adalah dunia yang senantiasa menarik perhatian dengan berbagai tingkah laku anak yang luar biasa dinamis, variatif dan inovatif. Pembicaraan tentang anak dan perkembangannya, hal ini tidak terlepas dari dua aspek yang ada pada diri anak yaitu aspek fisik dan psikologis. Oleh karena itu untuk memahami perkembangan anak, kita akan melihat perkembangan aspek fisik dan psikologis anak yang sekaligus berarti perkembangan dari aspek kuantitatif dan kualitatifnya. Pemahaman tentang perkembangan anak perlu dimiliki oleh siapapun yang terlibat dalam proses perkembangan anak, tidak terbatas pada orang tua. Dengan adanya pemahaman tentang perkembangan anak, kita akan mengetahui hal-hal apa yang harus dikembangkan pada anak sehingga kita dapat mengarahkan anak untuk beraktivitas sesuai tujuan perkembangan yang diharapkan. Masa anak merupakan rentang yang cukup panjang yaitu antara usia 2 tahun sampai dengan 11 atau 12 tahun. Dengan mempertimbangkan karakteristik dan tugas perkembangan yang berbeda, masa anak terbagi dua yaitu, periode anak awal dan anak anak akhir. Periode anak awal berkisar dari usia dua sampai dengan enam tahun dan periode anak akhir dari usia enam sampai dengan tibanya masa kematangan secara seksual, yaitu masa pubertas. Pengklasifikasian anak awal dan anak akhir mengacu pula pada usia dimana anak awal merupakan usia prasekolah dan anak akhir merupakan usia sekolah dasar. Tulisan ini akan menekankan bagaimana anak berkembang pada usia prasekolah.
BAB II PEMBAHASAN
A. KARAKTERISTIK ANAK PRASEKOLAH
Periode ini merupakan periode istimewa dalam kehidupan seorang anak.Pada periode ini anak mulai belajar untuk menumbuhkan kepercayaan pada orang lain di luar keluarganya, mereka mulai belajar mandiri dan mengontrol dirinya, serta belajar untuk bersosialisasi. Pada masa ini pula anak seringkali menunjukkan rasa ingin tahu terhadap apa yang ada pada lingkungannya. Anak-anak menunjukkan perilaku sebagai seorang pengamat dan peneliti terhadap obyek dan benda-benda di sekitarnya. Sementara itu dalam kemampuan berkomunikasi, anak belajar berkomunikasi dimulai dengan kalimat-kalimat sederhana dan kosa kata yang terbatas sampai akhirnya mereka mampu mengkomunikasikan ide-ide secara efektif. Demikian pula dalam aspek perkembangan fisik, pada usia ini pertumbuhan fisik berlangsung dengan cepat dari aspek kuantitas maupun dalam koordinasinya. Sebagian ahli menyebut periode ini sebagai ‘usia bermain’ (play age) karena pada periode ini anak menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain. Melalui bermain pula anak belajar banyak hal dari dunianya.
B. AREA PERKEMBANGAN
Pada dasarnya perkembangan anak meliputi empat area utama, yaitu perkembangan sosial-emosi, fisik, kognitif, dan bahasa. Keempat area ini tidak berdiri sendiri, tetapi satu dengan lain saling memperngaruhi. Artinya, perkembangan satu area, akan mempengaruhi dan dipengaruhi perkembangan pada area lain.
1. Perkembangan Sosial-Emosi Perkembangan sosial-emosi pada anak prasekolah menunjukkan arti Sosialisasi, yaitu proses dimana anak-anak belajar mengenai nilai-nilai dan berbagai perilaku yang diterima lingkungan. Hal ini berarti menjadikan anak seorang yang kompeten dan memiliki kepercayaan diri. Tujuan dari perkembangan sosial-emosi antara lain :
a. Memperoleh pandangan tentang dirinya sendiri.
b. Bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain.
c. Berperilaku prososial dengan menunjukkan empathy, bekerja sama dan menyesuaikan diri dengan orang lain
2. Perkembangan Fisik Perkembangan fisik meliputi perkembangan gerakan motorik kasar dan gerakan motorik halus. Orang tua ataupun para pendidik yang terlibat dalam pendidikan anak prasekolah seringkali beranggapan bahwa perkembangan fisik akan berlangsung secara otomatis dan tidak perlu dikembangkan secara terencana. Anggapan tersebut tentu saja tidak tepat karena perkembangan fisik sama penting dengan perkembangan pada area lain. Bagaimanapun jika area fisik berkembang baik, hal ini akan meningkatkan aspek perkembangan lainnya, khususnya sosial emosi. Dengan perkembangan motorik kasar dan motorik halus yang baik, anak akan mampu mengurus dirinya sendiri dan memperoleh kepercayaan diri. Tujuan dari perkembangan fisik, antara lain:
a. Mampu mengontrol gerakan motorik kasar, yaitu gerakan otot-otot besar dalam tubuh, khususnya mengontrol gerakan tangan dan kaki, menjaga keseimbangan dan stabilitas gerakan, seperti lari, meloncat, melempar, menangkap dan sebagainya.
b. Mampu mengontrol gerakan motorik halus, yaitu kemampuan untuk menggunakan dan mengkoordinasikan otot-otot halus dalam tangan dan pergelangan tangan dengan terampil. Perkembangan motorik halus ini akan membantu anak untuk memiliki keterampilan menolong dirinya sendiri dan mampu memanipulasi obyek-obyek yang kecil seperti menggunakan gunting, menggunakan alat tulis dan sebagainya.
3. Perkembangan Kognitif Perkembangan kognitif menunjukkan perkembangan berpikir dan bagaimana kegiatan berpikir itu bekerja. Hal ini meliputi bagaimana anak berpikir, bagaimana mereka memandang dunia mereka, dan bagaimana mereka memanfaatkan apa yang mereka pelajari. Tujuan perkembangan kognitif, antara lain:
a. Belajar dan memecahkan masalah, yaitu dengan menggunakan informasi, sumber-sumber dan materi yang diperoleh. Anak mengamati kejadian di sekitarnya, mengajukan pertanyaan, membuat perkiraan, dan menguji kemungkinan-kemungkinan pemecahan masalahnya.
b. Berpikir logis dengan mengumpulkan dan menggunakan informasi yang masuk akal dengan cara membandingkan, membedakan, mengelompokkan, menghitung, mengukur dan mengenal pola.
. Menampilkan dan berpikir secara simbolis dengan menggunakan benda-benda secara unik, misalnya cangkir jadi telepon atau sendok jadi mikropon dan sebagainya. Mereka juga bisa berpura-pura jadi seorang ibu atau bapak, mampu menggambar apa yang dialaminya melalui gambar atau lukisan.
4. Perkembangan Bahasa Perkembangan bahasa meliputi kemampuan untuk memahami dan berkomunikasi melalui kata-kata, berbicara dan menulis. Pada dasarnya setiap anak lahir dengan membawa potensi untuk mampu berkomunikasi dengan orang lain, baik secara verbal maupun non-verbal. Pada usia prasekolah, anak mampu mengkomunikasikan pikiran dan perasaan melalui kata-kata atau bahasa. Dalam hal ini bahasa menjadi hal yang penting dikuasai anak untuk membina dan mempertahankan hubungan dengan anak-anak lain dan orang dewasa. Karena kata-kata dapat merepresentasikan pikiran dan gagasan anak, maka perkembangan bahasa erat hubungannya dengan perkembangan kognitif. Semakin banyak anak usia 3-5 tahun berbicara atau berbahasa, maka perbendaharaan kata anak akan meningkat secara luar biasa. Dengan perbendaharaan kata yang baik, memungkinkan anak menjadi seorang pembaca yang baik. Oleh karena itu bahasa dan kemampuan membaca saling terkait. Kegiatan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis adalah kegiatan yang saling mendukung pada anak prasekolah. Tujuan perkembangan bahasa, antara lain:
a. Mendengar dan berbicara : anak mampu menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain, memperluas kosa kata, mengekspresikan diri, memahami pembicaraan orang lain, berpartisipasi dalam percakapan, dan menggunakan bahasa untuk memecahkan masalah.
b. Membaca dan menulis Mampu memahami bahasa tulisan, memahami huruf cetak, dan akhirnya mampu menulis huruf dan katakata.
C. BAGAIMANA ANAK PRASEKOLAH BELAJAR? Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa periode anak prasekolah dikenal pula sebagai usia bermain. Melalui aktivitas bermain anak dapat belajar banyak hal dari dunianya. Bahkan menurut Kathy Hirsh Pasek dan Roberta Michnick Golinkoff dalam Einstein Never Used Flash Cards (2006) “bermain bagi seorang anak bagaikan bensin bagi sebuah mobil". Dengan aktivitas bermain, yang mengandung arti menyenangkan dan menggembirakan, anak dapat merasakan dunianya yang “hidup”. Selain itu apabila proses pembelajaran pada anak dilakukan melalui bermain, kegiatan ini tidak akan yang membosankan, menyebalkan, bahkan menyakitkan anak karena tidak jarang kegiatan pembelajaran pada anak cenderung ada pemaksaan atau penekanan pada anak. Bagaimanapun aktivitas bermain yang menyenangkan dan menggembirakan anak akan menciptakan suasana emosi yang positif (baik). Dengan suasana emosi yang baik, hal ini akan mendukung proses berpikir anak sehingga anak akan lebih siap untuk memproses informasi yang diperoleh dari luar dirinya. Semestinya semua tujuan area perkembangan anak dapat dicapai melalui aktivitas bermain. Pada dasarnya bermain merupakan metode yang paling tepat dalam pembelajaran anak termasuk dalam mengembangkan kemampuan membaca, yang selama ini masih dianggap sebagai beban seorang guru taman kanak-kanak. Selain itu proses belajar mengajar yang baik adalah jika anak berinteraksi dengan pendidik, dalam hal ini orangtua dan guru. Oleh karena itu seorang pendidik harus pandai menciptakan situasi yang nyaman, membangkitkan semangat belajar, dan anak antusias belajar dengan memberikan metode pengajaran yang tepat. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam upaya membantu anak belajar pemahaman tentang perbedaan gaya belajar pada setiap anak. Ada anak yang lebih menyukai cara belajar yang menekankan pada kemampuan melihat (visual) seperti dengan menonton film, mengamati gambar, dan sebagainya, adapula anak yang lebih suka belajar dengan cara mendengarkan (auditory) ataupun lebih melalui gerak dan aktivitas fisik (kinesthetic).

BAB III PENUTUP
Pemahaman terhadap perkembangan anak prasekolah diharapkan dapat membantu para orang tua maupun para guru yang terlibat dalam pendidikan anak prasekolah dalam upaya merancang program aktivitas pengembangan area-area perkembangan anak. Berbagai aktivitas dan upaya pembelajaran untuk mencapai tujuan dari setiap area perkembangan anak hendaknya mengacu pada dunia anak sendiri sehingga anak dapat terlibat didalamnya Dengan keterlibatannya anak mendapat kesempatan banyak belajar, seperti menemukan ide atau gagasan, belajar dari kegagalannya, dan menemukan pemecahan masalah. Namun dari semua upaya pembelajaran, metode bermain merupakan metode yang paling tepat karena sesuai dengan dunia dan karakteristik anak prasekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Hadis, Fawzia Aswin. (2006), Cara Anak Usia Dini Berkembang dan Belajar, Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Pendidikan Tinggi. Pasek, Kathy Hirts dan Roberta Michnick Golinkoff (2006). Einstein Never Used Flash Cards. Bandung : Mizan. ____ Bolehkah Anak Usia Dini Belajar Beraksara?. Tersedia; http://www.jplh.or.id. ( Akses tanggal 4 Desember 2010) ____ Metode Belajar yang Tepat Bagi Anak (1). Tersedia: http://cyberwoman.cbn.net.id ( Akses tanggal 4 Desember 2010)

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.