Home » » Mencegah Cedera Renang

Mencegah Cedera Renang

MAKALAH TINDAKAN PREVENTIF UNTUK MENGHINDARI TERJADINYA CEDERA PADA OLAHRAGA RENANG DAN PERTOLONGAN UNTUK KORBAN SELAMA DI AIR BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Renang merupakan aktivitas jasmani atau olahraga air yang sangat memasyarakat. Berbagai kalangan masyarakat banyak melakukan olahraga ini. Renang dapat dikatakan sebagai olahraga yang sangat menguras energi, karena semua anggota gerak tubuh bergarak serta membutuhkan koordinasi dari semua anggota tubuh, mulai dari kepala, lengan, punggung, serta kaki. Semua orang pasti menginginkan tubuh yang sehat dan bugar. Pola hidup sehat dan ditunjang dengan olahraga secara rutin tentu dapat mewujudkan impian tersebut. Berenang salah satu alternatifnya, karena semua anggota tubuh bergerak sehingga sangat baik untuk kebugaran tubuh. Namun olahraga ini dapat berdampak buruk apabila kurang atau bahkan tidak memperhatikan faktor keselamatan. Misalnya dapat mengakibatkan cedera, dari cedera ringan sampai cedera berat, cacat, bahkan kematian. Langkah yang efektif untuk mengatasi masalah cedera pada olahraga renang adalah dengan memahami jenis-jenis cedera yang dialami serta mengetahui penyebabnya. Dengan banyaknya cedera yang sering dialami pada olahraga ini, seharusnya diimbangi dengan pengetahuan yang cukup untuk menanganinya. Namun banyak orang yang belum mengetahui cara melakukan pertolongannya, sehingga tidak dapat menolong penderita khususnya cedera di air. Usaha pertolongan ini sangat penting. Harus dilakukan secara cepat dan tepat agar tidak terjadi cedera yang semakin parah bahkan terjadi kematian. B. Tujuan Instruksional Setelah mempelajari makalah ini diharapkan mahasiswa dapat: 1. Mengetahui tindakan preventif untuk menghindari terjadinya cedera pada olahraga renang. 2. Mengetahui tentang macam-macam dan penyebab cedera pada olahraga renang. 3. Mengetahui bagaimana cara menolong korban yang masih berada di air. C. Manfaat Penulisan Di dalam makalah ini kita dapat mengetahui tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk menghindari cedera pada olahraga renang dan cara menolong korban yang masih berada di air. Sebagai insan olahraga, kita harus dapat mengaplikasikan hal-hal tersebut dalam aktivitas olahraga renang yang kita lakukan maupun untuk orang lain agar dapat mengurangi resiko terjadinya cedera. BAB II PEMBAHASAN A. DESKRIPSI TEORI 1. Pengertian Olahraga Renang Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, olahraga diartikan sebagai latihan gerak badan yang menguatkan dan menyehatkan badan (Pusat Bahasa Departeman Pendidikan Nasional, Widya Karya, 2005: 343). Aktivitas tersebut dapat dilakukan secara rutin dan terprogram sehingga memiliki tujuan tertentu yang hendak dicapai. Menurut Nunik Utami (2010: 34) di antara semua jenis olahraga, renang merupakan olahraga yang memiliki risiko cedera paling rendah. 2. Pengertian Cedera Olahraga Telah dijelaskan diatas bahwa olahraga adalah latian gerak yang menguatkan fan menyehatkan badan, maka cedera olahraga merupakan akibat tidak baik dari olahraga yang telah dilakukan. Cedera olahraga dapat disebabkan karena gerakan-gerakan pada olahraga yang melampaui kemampuan tubuh sehingga dapat menimbulkan cacat, luka dan rusak pada otot atau sendi serta bagian lain dari tubuh. Berbagai macam cedera yang sering menimpa perenang yang sedang berenang antara lain sebagai berikut: a. Kejang otot (kram), seperti otot tungkai atau kaki, otot lengan, dan otot perut. Kejang otot biasanya disebabkan oleh dingin ataupun kelelahan. Oleh karena itu jangan berenang di air yang sangat dingin atau berenang dalam kondisi badan bersuhu panas. Kejutan yang ditimbulkan oleh air dingin dapat mengakibatkan kejang otot. Apabila kejang otot terjadi ketika berenang, tariklah lutut ke dada, dan pijitlah otot yang sedang kejang. b. Keseleo persendian, pergelangan kaki (engkel joint), persendian lutut (knee joint), persendian bahu (solder joint), pergelangan tangan (wrist joint), dan tulang belakang. c. Luka, baik luka dalam maupun luka luar yang diakibatkan oleh benturan dengan sesama perenang, alat pemisah kolam, dan sisi kolam (dinding) atau lantai kolam (jika dangkal). d. Pingsan akibat kelelahan. e. Tidak dapat berenang sehingga terlalu banyak minum air kolam. f. Penyebab lainnya, terutama penyakit yang diderita atau yang tidak terduga lainnya. Menurut Benheman Kliegma Arvin (2000: 2384) cedera bahu adalah cedera penggunaan berlebihan yang paling lazim pada perenang yang berkompetisi. Penanganan dapat dikompres menggunakan es, modifikasi teknik pukulan, istirahat, peregangan, penguatan otot, fisioterapi, dan agen anti radang nonsteroid. Pencegahan meliputi menghindari kerja berlebihan, teknik yang tepat, dan pelatihan penguatan dan peregangan. 3. Tindakan Preventif Tindakan preventif merupakan tindakan yang dilakukan sebagai langkah antisipasi. Dalam olahraga ini, tidakan preventif yang dilakukan diharapkan dapat mencegah atau setidaknya meminimalkan kemungkinan terjadinya cedera pada olahraga renang. Menurut Tommy Apriantono, dkk. (2007: 163) ada tiga langkah tindakan preventif untuk menghindari kemungkinan terjadinya cedera. Pertama, adalah mengidentifikasi penyebab terjadinya cedera. Kedua, adalah mengetahui faktor dan mekanisme penyebab terjadinya cedera. Dan ketiga adalah menentukan strategi bagaimana mencegah terjadinya cedera. Menurut Irwansyah (2006 : 212) beberapa penyebab kecelakaan di air, khususnya di sungai atau di kolam renang adalah faktor keteledoran manusia. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan pemahaman, keterampilan, kehati-hatian, lalai atau lengah, ceroboh, atau keadaan fisik dan mental yang kurang sehat. Bahaya-bahaya yang sering terjadi di sungai atau di kolam renang antara lain disebabkan sebagai berikut: a. Tidak melakukan pemanasan (warming up) dan peregangan sebelum latihan berenang. b. Tidak mematuhi peraturan dan tata tertib di kolam renang. c. Tidak mengusai teknik berenang yang baik. d. Terlalu lelah atau terlalu lama berenang. e. Belum sarapan (makan) sebelum latihan berenang. f. Terlalu dekat waktu makan dengan waktu berenang (sebaiknya 2 jam sebelum berenang harus sudah makan). g. Tidak memperhatikan kondisi sarana, prasarana dan fasilitas kolam renang yang akan digunakan. Untuk mengurangi atau meminimalkan resiko terjadinya kecelakaan atau cedera pada olahraga renang, maka hal-hal diatas dapat digunakan sebagai acuan untuk mengambil tindakan. Misalnya dengan melakukan hal-hal sebagai berikut: a. Melakukan pemanasan dan peregangan sebelum latihan berenang. Pemanasan dan peregangan diperlukan sebelum melakukan olahraga. Di dalam olahraga renang terkadang cedera yang dialami akibat gerakan otot yang maksimal. Cedera yang biasa timbul adalah kram (muscle cramp) dan terkilir sendi (sprain). Cedera ini sering kali timbul dikarenakan otot belum siap untuk melakukan gerakan-gerakan yang bersifat cepat dan mengandalkan kekuatan. Ketidaksiapan ini disebabkan otot letih atau masih kaku. Resiko terjadinya cedera tadi dapat dikurangi dengan persiapan tubuh yang baik. Pemanasan dan peregangan merupakan kegiatan untuk mempersiapkan tubuh dengan baik sebelum melakukan olahraga renang, baik untuk semua perenang, termasuk perenang pemula. Beberapa fungsi pemanasan antara lain sebagai berikut: (1) Meningkatkan suhu tubuh (2) Meningkatkan metabolisme tubuh sehingga organ penting seperti jantung dan paru-paru siap menghadapi kebutuhan akan tingginya metabolisme saat berolahraga. (3) Meningkatkan sirkulasi darah ke seluruh tubuh termasuk otot aktif. (4) Mengurangi ketegangan otot. Fungsi peregangan adalah meningkatkan kelenturan otot sehingga dapat melakukan gerakan secara optimal tanpa terjadinya cedera. Pemanasan dianjurkan untuk dilakukan terlebih dahulu sebelum peregangan, karena melakukan peregangan pada otot yang belum panas justru dapat menyebabkan cedera. b. Mematuhi peraturan dan tata tertib di kolam renang. Peraturan dan tata tertib yang ada di kolam renang dimaksudkan agar semua orang yang menggunakan kolam renang tidak melakukan hal-hal yang dapat membahayakan dirinya sendiri bahkan orang lain. Maka dari itu peraturan yang ada harus dipatuhi agar tidak terjadi kecelakaan atau cedera. c. Menguasai teknik berenang dengan baik. Energi yang digunakan akan lebih sedikit dan tidak cepat lelah apabila mengusai teknik renang dengan baik dan benar. Hal ini tentu akan mengurangi resiko cedera kram otot, karena kram otot bisa terjadi jika otot mengalami kelelahan. d. Sarapan atau makan sebelum berenang. Apabila makan dilakukan sebelum berolahraga, maka dibutuhkan waktu antara 30 menit sampai 2 jam baru bisa berolahraga. Tergantung berat atau ringan makanan yang dikomsumsi. Karena setelah seseorang mengonsumsi makanan, darah akan mengalir ke bagian perut. Sementara itu di dalam perut sedang terjadi penyerapan nutrisi dari makanan yang sudah dikonsumsi. Tubuh juga sedang membuang sisa-sisa makanan ke bagian tubuh tertentu dan menyalurkan oksige ke seluruh tubuh. 4. Pertolongan untuk Korban Selama di Air Menurut Irwansyah (2006: 213) menolong penderita yang sedang cedera di air hendaknya memperhatikan beberapa hal, antara lain sebagai berikut: a. Upayakan agar penderita tenang dan tidak panik. b. Jika penderita masih bisa menggerakkan anggota tubuh (akibat tidak lancar berenang), pertolongan dapat dilakukan dengan mendorong badan perderita ke arah sisi kolam secara perlahan-lahan. c. Jika penderita tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya atau pingsan, dapat dilakukan pertolongan dengan cara sebagai berikut: (1) Usahakan penderita tenang dan tidak panik. (2) Posisi penderita harus dalam keadaan berbaring, upayakan agar muka (hidung) penderita berada di atas permukaan air, kemudian posisi penolong dalam keadaan terlentang dengan posisi tubuh berada di bawah penderita dan segera lakukan gerakan kaki seperti gaya dada sambil salah satu lengan atau kedua lengan menarik dagu penderita. Bawa penderita ke sisi kolam. Menurut Irwansyah (2006: 214) beberapa hal yang harus diperhatikan saat melakukan pertolongan sambil berenang, antara lain sebagai berikut: a. Bertindak cepat, tepat, dan berhati-hati. b. Memberikan ketenangan bagi penderita. c. Mencegah terjadinya cacat. d. Mencegah terjadinya infeksi. e. Mencegah bahaya maut atau kematian. f. Mancegah pendarahan apabila banyak keluar darah. g. Segera ketika sampai di sisi kolam lakukan pertolongan pertama. Sebaiknya di bawa ke dokter atau rumah sakit. B. KERANGKA BERFIKIR Cedera dapat terjadi pada siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Tak terkecuali pada olahragawan renang yang sedang melakukan aktivitas renang. Resiko cedera memang tidak dapat dihilangkan, tetapi setidaknya dapat diminimalkan agar orang yang akan melakukan aktivitas olahraga merasa lebih tenang dan nyaman. Dalam meminimalkan resiko cedera dalam olahraga renang maka harus dilakukan langkah-langkah yang tepat, bisa dalam bentuk tindakan preventif, atau mampersiapkan diri serta sarana, prasarana dan fasilitas sebaik mungkin. Apabila terjadi cedera, harus cepat dilakukan pertolongan terhadap korban agar tidak terjadi cedera yang semakin parah. Pertolongan dapat dilakukan sejak korban masih berada di air. Pertolongan itu bisa dalam bentuk penyelamatan korban yang masih sadar untuk dibantu ke sisi kolam atau penyelamatan korban yang sudah tidak sadarkan diri untuk dibawa ke sisi kolam renang dan bila perlu segera dilakukan nafas buatan. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari makalah diatas dapat disimpulkan bahwa cedera pada olahraga renang sering disebabakan olah kesalahan manusia itu sendiri (human error). Tindakan preventif, seperti mempersiapkan diri sebaik mungkin, melakukan pamanasan dan peregangan, mengatur jarak waktu makan dengan aktivitas renang, dan lain sebagainya, harus dilakukan sebelum melakukan olahraga renang. Selain langkah tersebut, harus diperhatikan pula tindakan pertolongan bagi penderita cedera atau korban yang masih berada di air. Pertolongan harus dilakukan sesegera mungkin agar korban tidak mengalami cedera yang semakin parah bahkan sampai terjadi kematian. B. Saran Berdasarkan kesimpulan di atas, ada beberapa saran yang dapat disampaikan, yaitu: 1. Semua orang yang hendak melakukan olahraga renang agar meningkatkan pengetahuan tentang penyebab cedera dan tindakan preventif yang harus dilakukan, agar resiko cedera yang kemungkinan terjadi dapat diminimalkan. 2. Semua pihak yang berkompeten dalam olahraga renang agar mampu melakukan tindakan pertolongan secara cepat dan tepat terhadap korban yang cedera saat melakukan aktivitas renang. DAFTAR PUSTAKA Arvin, Benheman K. (2000). Nelson Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15 vol. 3. (A. Samik Wahab. Terjemahan). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. http:belajarrenang.com (Borneo Swimming Club’s Blog, ditulis oleh: borneoswimmingclub, tanggal 23 Oktober 2010, diakses tanggal 27 November 2010). Irwansyah. (2006). Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan untuk Kelas XI Sekolah Menengan Atas. Jakarta: PT Grafindo Media Pratama. Nunik Utami. (2010). Cantik Tak Harus Mahal. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Pusat Bahasa Departeman Pendidikan Nasional.(2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Widya Karya. Tommy Apriantono, dkk. (2007). Jurnal IPTEK Olahraga vol. 9. Sekolah Farmasi: ITB.

1 comments:

  1. Lagi menacari Link terupdate dan terlengkap SBO???
    Klik ==== > link alternatif terlengkap sbobet

    Ayo Segera Daftar Akun Bermain Anda..Gratiss..

    Klik >>>>>>> Daftar Game SBO

    Hubungi Segera:
    WA: 087785425244
    Cs 24 Jam Online

    ReplyDelete

Powered by Blogger.